HOME
Home » Artikel » Tanaman Serat Batang Pisang Abaca

Tanaman Serat Batang Pisang Abaca

Posted at April 21st, 2019 | Categorised in Artikel
Source :
http://balittas.litbang.pertanian.go.id/index.php/penelitian/serat-batang-dan-daun

Tanaman abaka (Musa textilis Nee) termasuk salah satu jenis tanaman pisang yang buahnya tidak dimanfaatkan, tetapi diambil seratnya dari batang semu. Pada awal abad ke-16 penduduk asli daerah Cebu, Filipina memanfaatkan serat abaka untuk bahan pakaina. Oleh sebab itu,tanaman abaka dinamakan Musa textilis.

Sejak dahulu serat abka populer secara komersial dalam bentuk produksi tali dan jaring ikan. Saat ini, serat diolah untuk bahan baku kertas, seperti kertas cologne, kertas sering, kertas teh celup, kertas stensil, kertas rokok, serta kertas yang memerlukan ketahanan dan daya simpan yang tinggi seperti kertas uang, kertas surat berharga, kertas dokumen, kertas peta, dan produk komersial lainnya.

Masyrakat Filipina sejak lama memanfaatkan serat abaa untuk pembuatan bahan pakaian nasional. Sementara Pemerintah Amerika Seerikat memanfaatkan serat abakauntuk pembuatan uang kertas dolarnya karena serat abkamemang memiliki sejumlah keunggulan jika dibandingkan dengan jenis serat alam lainnya dan serat sintesis.Keunggulannya antara lain memiliki kekuatan tidak getas dan tidak mudah putus, memiliki tekstur yang sangat baik, mengilap seperti memantulkan cahaya,awet,lentur,serta tahan salinitas.

Karakter-karakter unggul ini yang menyebabkan serat abaka populer sebagai tali kapal dan jaring nelayan. Nilon memang lebih tahan terhadap air laut, tetapi kelemahannya tidak tahan panas dan mudah kusut. Serat abaka dapat dipintal tunggal, bisa dicampur kapas,rami,canabis,rayon,dan polyster.

Abaka penghasil ligno-selulosa potensial yang menyebabkan kekuatan serat sangat tinggi, sehingga memungkinkan untuk menghasilkan pulp dan kertas berkekuatan tinggi sperti kertas uang. Selain itu, abaka merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan dalam wkatu relatif singkat dibandingkan dengan tanaman kayu.

Tanaman abakka dapat tumbuh pada lahan tanpa pengolahan tanah dan tidak memerlukan persiapan lahan yang intensif. Abaka adalah tanaman naungan yang tumbuh baik di bawah kanopi pohjon hutan, sehingga pengembangan abaka tidak merusak ekosistem.

Di Indonesia, perusahaan yang menangani budi daya dan industri abaka, sangat terbatas. Perusahaan yang mulai memanfaatkan abaka, antar lain Abaka Crafts dalam bentuk usaha industri kerajinan kertas serat dan PT Kertas Leces Probolinggo untuk industri pulp dna kertas.

Produk utama abaka adalah serat, yang diolah melalui proses penyeratan dan pengeringan. Selain serat,dari abaka dapat dihasilkan minyak biji abaka yang dapat dimanfaatkan sebagai produk kesehatan dan perawatan kulit, limbah dari sisa penyeratan dan daun abaka dapat digunakan sebagai pupuk organik.

Orientasi pemanfaatan abaka saat ini dominan ke produk serat, sehingga pengembangan produk dari biji berupa minyak abaka dan pendayagunaan limbah sebagai pupuk organik kurang mendapat perhatian. Peluang ini patut dikembangkan untuk lebih meningkatkan nilai tambah bagi pengembangan abaka dan aneka produknuya. Kebutuhan abaka dalam bentuk pulp dan kertas meningkat seiring dengan perkembangan kepeduliaan terhadap keamanan lingkungan dan konservasi hutan serta peningkatan kebutuhan dunia akan pulp kertas bermutu tinggi.

Di Filipina, produktivitas abaka rendah disebabkan usaha budi daya tidak intensif, adanya penyakit virus abaka yakni Bunchy-top dan Mosaic, serta sebagian besar penanaman abaka sudah tua dan rusak pada areal pertanaman abaka di Filipina dan menjadi penyakit utama yang menyerang abaka. Saat ini, belum dijumpai varietas abaka yang resisten terhadap virus. Untuk itu , setidaknya satu varietas abaka perlu dikembangkan melalui teknik rekayasa genetik (genetic engineering) untuk mengidentifikasi varietas yang terus menerus memproduksi dan menguntungkan,walaupun diserang penyakit tersebut. Untuk mencegah dampak negatif berkembangnya kedua penyakit tersebut, maka penggunaan benih abaka yang berasal dari Filipina harus dihindari.

Produk serat abaka saat ini dapat memenuhi kebutuhan, baik untuk pasar Filipina maupun internasional. Diperkirakan 69,2% dari total serat abaka yang dihasilkan oleh Filipina dikonsumsi secara lokal dan sisantya diekspor ke inggris (53,3%), Jepang (34%), dan Amerika Serikat (6%). Untuk pulp, abaka diekspor ke Jerman, Inggris, Jepang, Perancis, Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura.

Selama ini , kebutuhan kapas untuk industri tekstil dalam negeri 95% bergantung impor dari Amerika Serikat. Kapas memang tidak mungkin dibudidayakan di kawasan tropis dengan hasil sebaik di kawasan subtropis. Alternatifnya adalah meningkatkan budi daya rami (Bohemeria nivea), jute (Corchorus capsularis dan Corchorus olitorius), kenaf (hibiscus cannabinus), dan abaka (Mus textilis) yang merupakan tanaman asli kawasan tropis.

Budi daya abaka relatif sederhana dibandingkan dengan rami,jute,kenaf, dan cannabis. Budi daya rami yang bisa mencapai lebih dari 10 tahun hanya cocok pada ketinggian di atas 500 m dpl. Jute, Kenaf, dan cannabis merupakan tanaman semusim dan sekali tanam harus dibongkar. Sementar abaka cocok dibudidayakan mulai dataran rendah sampai ketinggian 1.500 m dpl, maka pada iklim basah, untuk sekali tanam, dan terus-menerus dipanen selama 10 tahun. Budi daya dan pengolahan abaka juga menyerap banyak tenaga kerja.

Bank Indonesia dan Direktorat Jendral Industri Agro, kementerian Perindustrian tahun 2012 melaporkan bahwa potensi pasar internasional serat abaka sebesar 600.000 ton/tahun dan meningkat 5% tahun.Saat ini potensi pasar serat abaka disuplai produsen utama sebesar 80%. Keadaan ini merupakan peluang untuk pengembangan abaka bagi daerah yang berpotensi, seperti Lampung dan Kabupaten Kepulauan Talaud Sulawesi Utara.

Tags :