HOME
Home » Artikel » Beginilah Nasib Pisang Bahan Uang Dolar dari Talaud

Beginilah Nasib Pisang Bahan Uang Dolar dari Talaud

Posted at April 19th, 2019 | Categorised in Artikel

oleh Themmy Doaly, Talaud, Sulut di 9 July 2016

Pernah dengar nama pisang abaka? Seperti nama latinnya, tumbuhan ini bisa jadi bahan dasar pembuatan kertas maupun kain. Bahkan, menurut sejumlah referensi, serat pohon pisang abaka disebut-sebut sebagai bahan pembuat kertas dolar.

Pohon pisang abaka (Musa textilis) termasuk dalam famili Musaceae atau jenis pisang-pisangan. Filipina dan Ekuador disebut-sebut sebagai negara penghasil abaka terbesar di dunia. Filipina, misalnya, dengan ekspor 2.400 ton per tahun diperkirakan menghasilkan devisa mencapai USD 3.060.000. Serat dari batang pisang ini diyakini sebagai bahan baku kertas uang dengan kualitas terbaik, sehingga dipakai untuk mencetak dolar Amerika dan euro.Untung Seyo Budi dkk, pernah melakukan riset berjudul “Eksplorasi Sumber Genetik Abaca di kepulauan Sanghie-Talaud”. Menurut mereka, kepulauan Sangihe dan Talaud merupakan daerah pertama di Indonesia yang membudidayakan pisang abaka untuk keperluan sehari-hari. Kemudian, penduduk setempat sudah lama memanfaatkan serat abaka untuk pembuatan pakaian adat, tali tambang maupun jaring untuk menangkap ikan.

Dalam riset itu diperoleh 15 aksesi abaca, 8 aksesi di antaranya dari kecamatan Tabukan Utara dan Manganitu di kabupaten Kepulauan Sangihe dan 7 aksesi dari Kecamatan Beo, Rainis dan Esang di Pulau Karakelang, Kabupaten Kepulauan Talaud.

Mereka menilai, kepulauan Talaud, terutama di pulau Karakelang, merupakan wilayah ideal pengembangan abaka. Sebab, tampilan pohon pisang di daerah ini didapati lebih tinggi dan besar dibanding dengan yang ditemukan di Sangihe.


Serat pisang abaka dari Desa Esang Kabupaten Kepulauan Talaud Sulut yang siap kirim. Foto : Themmy Doaly

Sementara, menurut catatan Bank Indonesia, di Desa Esang, Kabupaten Kepulauan Talaud, terdapat setidaknya 150 hektar lahan abaka. Potensi ekonomi dari pemanfaatan pohon ini, membuat Bank Indonesia sejak Mei 2011, telah menjadikan abaka sebagai salah satu produk unggulan di Talaud selain kelapa, cengkih, kopra dan pala.

Bersama pemerintah Kabupaten Talaud, BI membuat Forum Pengembangan Ekonomi Daerah. Pada November 2012, nota kesepahaman ditandatangani Constantine Ganggali, Bupati Talaud saat itu, bersama dengan Suhaedi, kepala BI provinsi Sulawesi Utara. Tujuannya, memberdayakan ekonomi di wilayah perbatasan melalui abaka, sekaligus berusaha mewujudkan Talaud sebagai produsen abaka terbesar kedua di dunia.

Selain itu, diberikan seribu bibit abaka sebagai simbol kerja sama dan dimulainya implementasi program sosial Bank Indonesia di sektor ini. “Bantuan lain adalah alat pemroses serat, mesin pemangkas rumput dan pendampingan berupa pelatihan-pelatihan. Adapula bantuan modal kepada 4 kelompok untuk realisasi pengadaan bibit,” demikian dituliskan dalam Gerai Info, newslatter Bank Indonesia.

Masalah Harga, Bahan Baku dan Pasar

Dalam kenyataannya, upaya pemanfaatan pohon pisang abaka sebagai produk unggulan masih jauh panggang dari api. Sebab, sejumlah narasumber yang ditemui Mongabay Indonesia di Talaud, mengaku menghadapi persoalan teknis hingga ketersediaan bahan baku.

Menurut Jufri Amimang, petani pisang abaka dari desa Esang, masyarakat di desa itu belum begitu tertarik membuka kebun pisang abaka. Harga jual per batang yang dinilai rendah diyakini menjadi sebabnya.

Saat ini, dengan sistem ‘duduk manis’, pisang abaka per batangnya dihargai Rp2000. Dengan sistem ini, masyarakat cukup menyerahkan pohon pisang yang sudah siap dipanen tanpa harus melakukan penebangan pohon, pengangkutan serta penyeratan.

Namun, jika masyarakat mengolah sendiri pisang abaka hingga menjadi serat kering, harga per batangnya menjadi Rp10.000. Persoalannya, ungkap Jufri, masyarakat tidak memiliki alat produksi untuk melakukan pengolahan.

Tags :